Lewati ke konten utama
seratusribu.com
Semua artikel
Data Analyst

Dashboard KPI yang Dilihat Tapi Tidak Pernah Dipakai Ambil Keputusan, Ini Sering Salah di Mana

Oleh Anang H. Darmawan

2 menit baca
Laporkan
Dashboard KPI yang Dilihat Tapi Tidak Pernah Dipakai Ambil Keputusan, Ini Sering Salah di Mana

Foto: Amjith S / Unsplash

Dashboard KPI yang cuma dibuka pas rapat bulanan lalu ditutup lagi tanpa ada keputusan yang berubah, itu tandanya dashboardnya rusak, bukan orangnya males. Saya sering ketemu owner UMKM yang punya spreadsheet penjualan super rapi, warnanya bagus, grafiknya lengkap, tapi begitu ditanya "bulan ini margin turun karena apa", jawabannya cuma "nanti saya cek lagi manual". Itu artinya dashboardnya cuma jadi laporan, bukan alat keputusan.

Masalah paling sering itu granularitas yang salah. Kebanyakan dashboard nunjukin angka total, revenue bulan ini sekian, tapi nggak bisa dipecah per cabang, per sales, atau per produk tanpa export ulang ke Excel dulu. Begitu harus buka file baru cuma buat lihat satu angka spesifik, orang berhenti buka dashboardnya sama sekali. Dashboard yang benar-benar dipakai itu yang bisa langsung difilter di tempat, bukan yang minta kamu olah data lagi tiap kali ada pertanyaan susulan.

Masalah kedua, datanya nggak update otomatis. Ada dashboard yang keren tapi angkanya masih data bulan lalu karena harus di-refresh manual satu-satu dari beberapa sheet berbeda. Kalau update-nya butuh 20 menit kerja manual tiap minggu, ya cepat atau lambat bakal dilewatin. Template yang tersambung langsung ke sumber data, entah Google Sheets atau BigQuery, jauh lebih kepakai karena angkanya jalan sendiri begitu data transaksi masuk.

Masalah ketiga sering luput: metrik yang ditampilkan bukan metrik yang relevan sama keputusan. Menampilkan grafik traffic website tiap hari itu enak dilihat, tapi kalau yang perlu diputuskan adalah "cabang mana yang perlu dikirim stok tambahan minggu ini", grafik traffic nggak bantu apa-apa. KPI yang bagus itu yang langsung nyambung ke satu keputusan konkret: revenue turun di cabang mana, retensi pelanggan drop di segmen mana, target versus realisasi per sales siapa yang paling jauh.

Untuk mahasiswa atau tim riset yang datanya bukan data transaksi tapi hasil kuesioner, masalahnya agak beda tapi akarnya sama, angka mentah dari Google Form nggak otomatis jadi narasi temuan yang bisa langsung ditulis di bab hasil. Butuh proses yang mengubah data mentah jadi statistik deskriptif dan draft narasi sekaligus, bukan cuma tabel angka yang harus diinterpretasi manual satu-satu.

Kalau dashboard di kantor kamu termasuk yang "dilihat tapi tidak dipakai", biasanya lebih cepat dibenerin dengan template yang memang dirancang buat dipakai ambil keputusan harian daripada dibangun ulang dari nol, entah itu Template Dashboard KPI Bisnis (Spreadsheet) untuk owner yang mau satu halaman ringkas, Dashboard Analitik Penjualan (Looker Studio) untuk yang punya beberapa cabang, atau Template Laporan Analisis Data Survei kalau datanya dari kuesioner.